3 Ancaman Keamanan Siber Yang Dihadapi Data Bisnis

3 Ancaman Keamanan Siber Yang Dihadapi Data Bisnis

Bagi organisasi mengamankan data sensitif, ransomware, celah dari dalam, dan serangan denial of service menjadi ancaman keamanan siber yang paling ditakuti, menurut laporan terbaru dari SANS dan Infoblox.

Dan yang lebih horornya lagi, ancaman ini dan ancaman keamanan siber lainnya tidak cuma datang sekali. Menurut perusahaan penelitian yang melakukan survei untuk laporan ini, menyebutkan bahwa 78% organisasi mengalami dua atau lebih ancaman berbeda terhadap data mereka pada tahun lalu. Selain itu, 68% mengalami ancaman yang sama lebih dari satu kali.

Dalam rentang waktu yang sama, 12% organisasi berhadapan dengan kebocoran data, dengan 43% dari mereka mengalami exfiltrasi data sensitif melalui saluran terenkripsi, seperti yang terungkap dalam laporan ini. Data yang paling sering ditargetkan dalan serangan ini adalah data akses, atau data yang berkaitan dengan informasi kredensial pengguna dan informasi akun.

Jadi, bagaimana organisasi mengidentifikasi ancaman keamanan siber ini? Menurut laporan yang dirilis, 59% mengandalkan proses manual untuk mengidentifikasi aset sensitif mereka, yang membiarkan jaringan mereka terbukan untuk serangan otomatis. Untuk mengatasi hal ini, organisasi harus menyusun sebuah rencana untuk mengidentifikasi dan mengamankan aset sensitif dengan lebih cepat dan efisien.

Mengotomatisasi network process membantu menemukan data sensitif di area jaringan yang sebelumnya tidak diketahui. Hal ini dapat menghemat waktu bagi admin TI untuk melakukan tugas lainnya yang lebih penting.

Meski begitu, mengamankan data tetap menjadi tantangan tersendiri. Dari mereka yang disurvei, 31% mengatakan bahwa mereka tidak memiliki jumlah atau sumber daya yang tepat untuk mengamankan data mereka secara memadai.

Sebanyak 41% respondem mencantumkan bahwa serangan hacker atau yang terkait dengan malware sebagai menjadi serangan yang paling umum untuk kebocoran data. Sementara 37% mengatakan bahwa mereka ancaman berasal dari dalam.

Sebagai bagian dari dari rencana untuk mengatasinya, Infoblox menyarankan untuk secara reguler melakukan DNS scan. Sekitar 42% organisasi yang disuvei melakukan pemindaian infrastruktur DNS mereka, namun hanya 19% yang melakukan hal ini seara berkala setiap minggu. Hanya 9% yang melakukan pemindaian terus menerus. Dan 58% sisanya tidak menggunakan teknik DNA-based based protetion / prevention sama sekali.

 

Jakartawebhosting.com menyediakan layanan Cloud Hosting, dengan kecepatan dan stabilitas pusat data dan server yang baik, up time server 99,9%, team support yang siap membantu 24 jam dan biaya langganan yang menarik.